Dalam semua bahasa yang kita kenal, makna ‘orang pintar’ selalu indentik seseorang yang menguasai satu atau lebih disiplin ilmu. Dalam Islam, misalnya, orang pintar berarti seseorang yang menguasai ilmu-ilmu syari’ah. Di negeri-negeri Barat orang pintar adalah orang yang menguasai teknologi, pintar berpolitik atau pandai melipat gandakan uangnya. Itulah makna yang lumrah. Namun di Indonesia, ketika kita menggunakan istilah ‘orang pintar’ ini, seringkali kita mendapati dua makna yang berbeda. Makna yang pertama adalah makna umum, yakni bagi orang yang mendapatkan ilmunya di sekolah-sekolah umum atau sekolah agama. Makna kedua, yakni makna yang (anehnya) lebih sering digunakan, ‘orang pintar’ berarti orang yang mengetahui hal-hal gaib. Gaibnya pun gaib versi Indonesia. Orang pintar yang dimaksud adalah dukun. Begitulah kira-kira.
Perdukunan adalah salah satu produk masa lalu yang tetap eksis sampai sekarang, yang terus berganti-ganti nama namun tetap menjurus pada inti yang sama; kepercayaan pada jin. Di antara cabang ilmunya adalah ilmu tebak-tebakan yang kadang benar namun lebih sering salah. Perdukunan juga menggunakan kekuatan jin dalam pelaksanaannya. Dan karena jin adalah makhluk gaib, maka tak ada yang pernah tahu apakah seorang dukun menggunakan jin ketika berpraktek atau berekspresi sendiri. Namun yang jelas, ia lemah dan salah ditinjau dari segi apapun. Dari segi logika, moral, agama apalagi dari sisi Islam.
Praktek perdukunan di Indonesia sebetulnya memiliki wilayah cakupan sendiri. Akarnya berasal dari kepercayaan Animisme-Dinamisme dan bercampur dengan budaya Hindu-Budha. Nilai jualnya adalah sekitar kekayaan, kekuatan atau kecantikan. Dan sampai di sini, semuanya masih dalam tahap ‘aman’. Ia pun masih ‘aman’ ketika sang dukun terang-terangan mengakui bahwa ia dukun. Pakaian hitam-hitam, kemenyan dan segala perangkat perdukunan pada umumnya.
Namun pada perjalanannya, seringkali praktek perdukunan bersikap nakal dengan mencoba menyentuh wilayah-wilayah yang bukan bidangnya, yakni wilayah Islam. Mulailah sang dukun mengenakan unsur-unsur ‘Islam’ dalam prakteknya. Sang Dukun mengggunakan nama Kyai, yang meskipun kata ‘Kyai’ bukanlah berasal dari Islam tapi Muslim Indonesia mengidentikkannya dengan julukan ‘Ulama. Sang Dukun juga beralih dari mantra-mantra ke ayat-ayat Al Qur’an dan kata-kata berbahasa Arab. Jampi diganti dengan dzikir. Juga berbagai atribut lain yang mulai mencitrakan praktek perdukunan dengan Islam.
Ini sungguh aneh karena ajaran Islam terbebas dari praktek klenik seperti yang sering dituduhkan. Tak ada satu pun ajaran Islam yang mengajarkan atau mengijinkan praktek klenik. Karenanya, ketika kita mendengar fatwa seorang dukun tentang agama, atau seorang dukun mengatas namakan agama dalam praktek perdukunannya, maka ini adalah pembohongan atas nama agama. Karena sang dukun tak memiliki pemahaman Islam yang benar atau sengaja menyelewengkannya. Ini sama halnya membicarakan masalah warna kepada orang buta. Atau minta obat penyubur rambut pada si Gundul. Buta bukan kelemahan, kecuali saat ia memaksakan diri menjadi seorang ahli warna. Dan perdukunan adalah keilmuan, kecuali saat ia mencampurkannya dengan Islam.
Mengapa demikian?
Karena Islam datang untuk memberantas perdukunan. Rasulullah berdakwah untuk menghancurkan sihir dan klenik. Ilmu tersebut adalah ilmu sesat, sesat dalam arti yang sesungguhnya, karena ia akan menjerumuskan pelaku dan pemintanya kepada neraka. Sangat banyak ayat dan hadits yang menerangkan tentang hal ini. Sangat jelas perilaku umat Islam generasi pertama dalam menjauhi semua ini. Lantas, jika perdukunan mulai dikait-kaitkan dengan Islam, maka Islam yang mana yang dimaksud?
‘Orang-orang pintar’ di Indonesia membagi sihir menjadi dua; sihir hitam dan sihir putih. Sihir hitam adalah sihir yang benar-benar sesat karena ia diambil dari selain Al Qur’an dan Hadits. Sementara sihir putih adalah sihir yang menggunakan ayat-ayat suci Al Qur’an. Maka ia menjadi legal di mata agama, bahkan bisa mendatangkan berkah dan pahala. “Takdir itu di tangan Allah. Tapi kita sebagai manusia wajib berusaha”. Begitulah kira-kira argumen ‘orang pintar’ tersebut.
Kalau membacanya hanya sepintas lalu, pernyataan di atas nampak sangat benar dan sangat masuk akal. Imajinasi kita tentang ‘yang putih yang benar dan yang hitam yang jahat’ menjadikan teori tentang sihir hitam dan sihir putih menjadi mudah diterima. Seolah ia memang ada dan sesuai tuntunan syara’. Maka Indonesia pun menjadi negara perdukunan. Dari mulai pelet sampai santet, dari ilmu nyegik sampai pancasona, semua diperjual belikan dengan bebas hanya dengan membayar mahar ‘seikhlasnya’.
Ajaib bukan?
Seorang teman pernah bercanda, “Kalau dukun dan paranormal benar-benar sakti, Indonesia tidak akan mungkin dijajah Belanda 350 tahun lamanya. Dan kalaulah benar klenik bisa mendatangkan kekayaan yang berlipat-lipat ganda, tentunya Bill Gates bakal jadi orang termiskin di dunia.”
Tapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Apalagi ketika anggapan salah itu adalah tentang ketinggian ilmu dalam Islam. Banyak orang-orang Muslim di Indonesia gemar mengukur kewalian seseorang dengan kesaktian ilmu yang dimilikinya. Kesaktiannya pun tidak tanggung-tanggung; bisa terbang, menghilang, pindah tempat dalam sekejap, sampai—yang paling ekstrim—bisa mengetahui rahasia Allah.
Karomah itu benar adanya dan memang ada orang-orang sholeh yang dianugerahi Allah keutamaan tersebut. Tapi hal demikian bukanlah sebuah cabang ilmu yang bisa dikuasai dengan menempuh tarekat-tarekat tertentu. Iapun memiliki batas-batas yang wajar dan tak akan mungkin melanggar syari’at. Dan karomah, dalam hal ini, dianugerahkan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendakiNya.
Orang-orang yang dimaksud adalah orang-orang sholeh. Sholeh dalam arti menjalankan ibadah dengan ikhlash dan istiqomah. Tapi syarat kesholehan adalah keimanan yang benar. Sementara keimanan yang benar menolak segala macam kesyirikan bernama perdukunan.
Putih atau hitam, atau bahkan abu-abu, semua sihir tetap sihir. Dan sihir adalah dosa besar ketika kita mengukurnya dengan Islam. Ia bahkan menjadi syirik ketika seseorang melakukannya terus menerus dan meyakini kekuatannya.
Apakah penggunaan ayat-ayat Al Qur’an menjadikan sihir sesuatu yang benar?
Tentu saja tidak! Selama ribuan tahun Umat Islam menjadikan pembacaan, penghafalan dan pengamalan sebagai bentuk interaksi mereka dengan Al Qur’an. Selama belasan abad jutaan nyawa telah melayang hanya karena ingin membela kesucian Al Qur’an dari kekotoran-kekotoran sekecil apapun. Apakah kita berani mengaku sebagai umat Muhammad jika perbuatan kita adalah perbuatan yang sangat dibenci bahkan diperangi oleh Rasulullah? Hanya karena iming-iming bodoh berupa ‘kaya tanpa bekerja’ atau ‘tetap awet muda dan dicintai wanita’?
Muslim Indonesia sudah cukup menderita oleh penjajahan dan penguasa yang zholim, maka jangan tambah lagi penderitaannya dengan kezholiman yang sama besarnya. Islam tidak jaya hanya oleh selembar ayat Al Qur’an yang ditempel di dinding. Dan surga tidak akan terbuka bagi orang yang memasukkan jimat ke dalam tubuhnya.
Tidakkah kita mulai belajar?
Semoga Allah melindungi kita semua dari kebodohan-kebodohan semacam itu.
Wallahu A’lam
rickyfirman
Filed under: Renungan, Al Qur'an, Do'a, Dukun, Ilmu, kematian, Pintar, Putih



Alhamdu lillah
setuju buanget