Sebelum datangnya Islam, jazirah Arab telah dipenuhi oleh beragam kepercayaan yang menyebar di seluruh wilayah. Agama-agama ini penuh dengan penyimpangan dan kesesatan, serta tak jarang digunakan sebagai mesin politik untuk memperkuat kekuasaan. Tak ada yang benar-benar memiliki keyakinan yang benar terhadap agama kecuali hanya sedikit saja. Dan kebenaranpun tersembunyi dalam kegelapan yang teramat sangat, hingga setiap orang kebingungan dan tenggelam dalam kesesatannya. Di antara agaa-agama tersebut adalah:
PAGANISME (PENYEMBAH BERHALA)
Agama ini pertama kali dibawa oleh Amr bin Luhai yang baru pulang dari bisnis di Syam. Ia membawa patung Hubal sebagai oleh-oleh dan meletakkannya di dekat Ka’bah. Semenjak itu, mulailah bermunculan berha-berhala baru yang memenuhi jazirah Arab. Ini menjadi kepercayaan mayoritas masyarakat, dan kehidupan mereka sangat bergantung pada berhala-berhala tersebut.
Di antara berhala-berhala yang paling populer adalah:
Wadd; berhala milik Bani Kilab bin Murrah di daerah Daumatul Jandal.
Suwa’; berhala milik Bani Hudzail di daerah Rahath (sekitar 3 hari perjalananan dari Makkah ke arah barat laut)
Yaghuts; berhala milik Bani An’um di Thayyi’ dan penduduk Huras di Madzhaj—Yaman.
Ya’uq; berhala milik Bani Khaywan—Hamdan.
Nasar; berhala milik Dzu Al Kila’—Himyar.
Ammu Anas/Umaynis; berhala milik Kabilah Khaulan.
Sa’ad; berhala milik Bani Malakan bin Kinanah.
Patung milik Amr bin Hamamah dari Bani Daus.
Hubal; berhala milik Quraisy yang terletak di sumur dekat Ka’bah.
Isaf dan Nailah; berhala milik Quraisy yang terletak di sumur zamzam. Aisyah r.a. berkata, “Kami masih mendengar bahwa Isaf dan Nailah adalah seorang laki-laki dan perempuan dari Kabilah Jurhum yang berzina di dalam Ka’bah, hingga Allah mengedzab mereka berdua menjadi batu.”
Selain berhala-berhala tersebut, orang-orang Arab jahiliyah juga membuat thagut-thagut—rumah-rumah yang diagungkan dan dipuja, memiliki penjaga dan pelayan, diberi sesajian, thawaf di sekelilingnya dan menyembelih hewan qurban di sebelahnya. Di antara thagut-thagut tersebut adalah:
Al ‘Uzza; berhala di daerah Nakhlah milik orang-orang Quraisy dan Kinanah. Pelayannya adalah dari Bani Syaiban dari Sulaim, sekutu Bani Hasyim.
Al Lata; berhala di daerah Thaif milik Bani Tsaqif. Pelayannya adalah Bani Muattab.
Manat; berhala di Qudaid milik Kabilah Aus, Khazraj dan orang-orang Yatsrib yang tinggal di pesisir pantai Qudaid.
Dzu Al Khalshah; berhala di Tabalah milik Daus, Khats’am dan Bajilah.
Fals; berhala di gunung Salma dan Aja’ milik Thayyi’ dan penduduk di gua gunung tersebut.
Ri’am; berhala di Shan’a milik orang-orang Himyar di Yaman.
Rudha’; berhala milik Bani Rabi’ah bin Ka’ab bin Sa’ad bin Zaid bin Manat bin Tamim.
Dzul Ka’abaat; berhala di daerah Sindad milik Bani Bakr, Taghlab dan Iyad.
PENYEMBAH BINTANG
Bintang-bintang merupakan unsur yang sangat penting bagi masyarakat jazirah Arab; khususnya membantu mereka dalam menunjukkan arah dalam perjalanan. Namun, pada perjalanannya, bintang-bintang ini menjadi sesuatu yang dianggap sakral dan memuiliki unsur-unsur ketuhanan. Maka lahirlah agama penyembah bintang ini dan menyebar di beberapa wilayah di jaziran Arab. Agama ini umumnya dianut oleh orang-orang Haran, Bahrain dan beberapa wilayah pedalaman.
Di Makkah, ajaran tersebut dibawa oleh Abu Kabsyah yang menyembah bintang Syara. Ajarannya diikuti oleh orang-orang Bani Lakhm dan Khuza’ah. Namun orang-orang Quraisy tidak terlalu tertarik dan hanya sedikit saja yang menganutnya.
Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah pernah diejek dengan julukan Ibnu Abu Kabsyah (putra Abu Kabsyah) karena ajaran Islam dianggap sama menyimpangnya dengan ajaran Abu Kabsyah tersebut, dan bertentangan dengan kepercayaan masyarakat Quraisy secara keumuman.
PENYEMBAH MATAHARI
Ajaran ini menyebar secara luas di Yaman, khususnya di daerah Saba’. Berkaitan dengan ajaran tersebut, Al Qur’an menyebutkannya dalam surat An Naml ayat 23-24 ketika berkisah tentang Nabi Sulaiman. Di negeri Saba’ saat itu dipimpin oleh seorang Ratu, dan mayoritas masyarakatnya menyembah matahari. Namun di kalangan masyarakat Quraisy tidak ada catatan khusus tentang kepercayaan tersebut.
MAJUSI (PENYEMBAH API)
Agama Majusi merupakan ajaran yang lahir dari negeri Persia. Ajaran tersebut meyakini kekuatan keseimbangan yang memengaruhi alam semesta. Dan kekuatan yang tertinggi dalam ajaran tersebut adalah kekuatan kebenaran (yang dilambangkan dengan api sebagai cahaya) dan kekuatan kejahatan yang dilambangkan dengan kegelapan. Pada praktiknya, mereka memuja api sebagai tuhan mereka dan memiliki api abadi yang selalu dijaga agar tidak padam.
Ajaran Majusi aliran zindiq menyebar di Makkah dari daerah Hirah. Orang Quraisy yang dikenal menganut ajaran ini adalah Arqa’ bin Habis dan Abu Suud. Sementara penganut Majusi di wailayah Tamim yang cukup dikenal adalah Zurarah At Tamimi dan anaknya, Hajib bin Zurarah. Ajaran ini menyebar pula di wilayah Hajar dari Bahrain.
Filed under: Sejarah, Agama, Jazirah Arab, Kisah, Sejarah, Sirah



[...] Agama-agama di Jazirah Arab [2] [Sebelumnya] [...]